Etos Membaca dan Etos Menulis sebagai Kearifan Lokal yang Tidak Boleh Lenyap dan Pudar

 


Oleh:  Dr. H. Mohammad Fattah Syamsudin, MA

Peradaban Islam bermula dari Kanz al-Afrat (khazanah individu) menuju ke Kanz al-Ummah (khazanah ummat). Hal itu maklum bagi kita, Pertanyaannya adalah mengapa hal demikian terjadi dan peradaban Islam mencapai keemasannya? Dalam catatan sejarah, kemajuan dunia Islam erat kaitannya dengan kekuatan politik, bagian Timur, Harun al-Rasyid (786-809 M) di Baghdad  dan bagian Barat, Emir Abdurrahman II (822-852M) di Cordova, merupakan zaman keemasan. Namun sejatinya dibalik itu terdapat faktor keilmuan yang justru lebih penting daripada politik. Sebab inti peradaban Islam adalah ilmu yang bermuara pada kitab suci dan hadits yang dihidupkan oleh tradisi intelektual.

Islam selain sebagai agama juga sebagai peradaban. Islam  bukan produk sosial budaya manusia tetapi ia tanzil, diwahyukan. Islam hadir bukan di ruang hampa namun di berbagai belahan dunia pada waktu itu telah terpuruk   ke dalam kesesatan, kemusyrikan dan kezaliman. Keadaan dunia yang demikian, butuh kepada penyelamat untuk meringankan beban umat manusia. Maka sudah menjadi sunnatullah, Habis Gelap terbitlah Terang. Hal itu dibuktikan dengan diutusnya Nabi dan Rasul Sallallahu ‘alaihim ajma’ian.

Perlu disadari bahwa watak dasar ajaran Islam itu adalah memberi peng- hargaan yang tinggi terhadap ilmu dan ulama. Pertama yang ditanzil dari wahyu adalah perintah  ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu’, ditambah dengan pesan-pesan Nabi SAW utk mencari ilmu dan mengembangkannya. Kandungan perintah  itu meliputi baik membaca dalam arti tekstual maupun dalam arti kontekstual. Surat itu mendorong umat Islam untuk melakukan pembacaan atas semua ciptaan Allah SWT dengan berdasarkan pada nilai nilai ilahiyyahdan ketauhidan.

Kita tidak menganut ideologi Sekuler, yang memandang ilmu secara dikhotomis. Maka dalam kontek Pondok  Pesantren Al-Amien Prenduan terutama di Ma’had Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah dibukanya dengan penjurusan Dirasat Islamiyah wal al-Arabiyyah (DIA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPSI) dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), bahkan di Pondok Al-Amien Putri I  dibuka Sekolah Menengah Kejuruan ( Kelautan dan Informatika-Tehnologi) merupakan langkah jitu untuk mengantarkan anak didiknya menguasai berbagai bidang ilmu. Dalam agama Islam, tidak terdapat perbedaan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Kebijakan seiring dengan antusiasme  ulama-ulama terdahulu yang bersemangat untuk menggali ilmu pengetahuan, baik yang berdasarkan wahyu dan observasi serta ilmu-ilmu umum.

Melihat kembali zaman keemasan pada abad ke-8. yang perlu mendapat perhatian khusus adalah situasi intelektual di zaman itu tidak lepas dari orientasi para penguasa pada dinasti Abbasiyah sebagai kelanjutan dari Dinasti Umawiyah, berdasarkan perhatian khalifah dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Khalifah Harun al-Rasyid misalnya, mengikuti jejak ayahnya dalam proyeksi penterjemahan buku-buku tentang kedokteran. Keperduliannya dalam masalah ilmu diwujudkan dengan membangun rumah sakit dan pendidikan dokter serta mendirikan apotek. Pada masanya terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter profesional.

Walhasil, untuk memperhebat pengembangan profesionalisme di bidang riset dan ilmu pengetahuan maka etos baca dan etos berkarya implementasi  dari kandungan ayat 1-5 dari surat al-‘Alaq yang merupakan pertama diturunkan. Perlu alokasi waktu membaca buku di perpustakaan. Program membaca di perpustakaan wajib menjadi priotitas yang tidak dapat dipisahkan dari program-program wajib dan  pilihan yang telah digariskan. Lebih dari itu tradisi  mencatat pokok-pokok pikiran atau mencatat hasil pembacaan itu  awal dari penyusunan sebuah karya. Pembudayaan (tatsqif  atau ta’wid) etos baca dan etos berkarya ini memang sedikit banyak ada unsur paksaan dan itu sah-sah saja dalam kontek pendidikan. Perpustakan Pusat yang berada dibawah naungan Pusat Studi Islam (Pusdilam) yayasan Al-Amien Prenduan (YAP) pada saat ini jumlahnya lebih daripada memadai dibandingkan dengan tahun 80-an.

Bila etos baca dan etos berkarya masuk dalam bagian aktivitas hidup dan kehidupan sehari-hari, maka pemberian penghargaan terhadap mereka yang berprestasi di bidangnya mesti diberikan walaupun secara eksidentil. Justru para mujahid di setiap bidang itu harus senantiasa berpacu, berlomba dalam kebaikan dan menjunjung tinggi perisai ilmu pengetahuan. Para pendahulu di Pondok Pesantren al-Amien Prenduan telah memberikan contoh yang baik dalam mengukir tinta emas keintektualan dan keilmiyahan baik yang bersifat nasional dan internasional. Sekarang, tinggal bagaimana generasi penerus para salafus soleh ini menterjemahkan dan meng-ejawantahkan nilai-nilai ilmuwan ini, sehingga tongkat estafeta keilmuan tetap gemilang dan cemerlang hingga ke akhir zaman. Bismillah tawakkalna ‘alallah.

 


Komentar